Rabu, 22 April 2009

Mengubah Batu menjadi Emas

MENGUBAH BATU MENJADI EMAS



Dia lincah ,manja dan hidup berkelimpahan dia juga keras kepala serta tak mau mengalah, itu terjadi ketika kedua orang tuanya masih hidup,tapi kehendak Tuhan berbicara lain,terhadap Hilligonda Wolbring yang dilahirkan di Rotterdam Belanda 8 Januari 1826. Ibunya meninggal ketika ia berumur 3 tahun. Ayahnya menikah lagi, dia yang memang manja, semakin dimanjakan oleh ibu tirinya.

7 tahun kemudian ayah yang mencintai dan dicintainya juga menghadap Bapa.
Ayahnya seorang pande emas yang kaya raya, Hilligonda menjadi pewaris tunggal harta orang tuanya. Ibu tirinyapun menikah lagi dan membesarkannya dengan menuruti semua permintaan Hilligonda. Ia semakin dimanja karena ibunya tidak mau kehilangan harta warisan ayahnya.

Melihat hal yang tidak beres itu, pamannya Gerald Wolbring mengambil Hilligonda dan diajaknya ke Wesfalen Jerman.Hilligonda memberontak dan menolak hidup di tempat yang baru, namun kesabaran serta ketekunan bibinya mampu meluluh lantakkan sifat Hilligonda yang manja dan keras kepala itu. Hidup bersama bibi dan saudara – saudari sepupunya yang cukup banyak merupakan jalan perubahan bagi Hilligonda kecil.

Dikeluarga itulah wataknya dibentuk batu yang keras menjadi hati emas yang peduli pada nasib sesamanya terutama yang miskin, lemah dan terlantar. Bibinya mendidiknya dengan disiplin dan penuh cinta kasih sehingga dia terbiasa untuk selalu berbagi, dengan saudara saudarinya dan bekerja keras sehari-hari dikebun, ladang pertanian dan memerah susu sapi. Berkat didikan bibinya itulah dia tumbuh sebagai gadis belia yang mempunyai perhatian khusus pada anak-anak miskin yatim piatu, serta tergerak hatinya karena situasi yang terjadi di Coesfeld ( Jerman ), yang saat itu dilanda kemiskinan akibat Revolusi industri.

Hilligonda Wolbring masuk sebagai siswa pendidikan guru dibawah pimpinan Bernard Overberg, seorang guru besar yang mendasari pendidikan guru di Jerman. Disitulah Tuhan mempertemukan Hilligonda dengan Lisette Kuhling, teman seperjuangan yang 6 tahun lebih tua darinya yang nantinya akan mengukir sejarah baru lahirnya sebuah kongregasi religius di Coesfelfd Jerman.

Apa yang menjadi keprihatinan dan cita-cita Hilligonda juga menjadi keprihatinan dan cita-cita Lisette. Rupanya Tuhan telah mempersatukan 2 pribadi yang bercita –cita luhur itu, meskipun keduanya mempunyai kepribadian, watak dan latar belakang yang berbeda. Hilligonda anak tunggal dan orang tuanya meninggalkan harta warisan yang banyak, dia lincah, mudah bergaul. Sedangkan Lisette Kuhling lahir dari keluarga besar, keluarga sederhana, sifatnya pendiam, sabar dan rendah hati. Tuhan memperpadukan 2 pribadi tersebut untuk memulai karya besar-Nya. Dengan harta warisannya Hilligonda membeli rumah di jalan Suhring untuk menampung para muridnya yang miskin dan anak-anak yatim piatu.

Hilligonda Wolbring dan Lisette Kuhling tidak hanya mengabdikan dirinya untuk anak -anak miskin, namun mereka juga berniat akan mempersembahkan dirinya untuk Tuhan dan karya-Nya. Setelah melalui pergulatan batin yang panjang, disertai doa terus menerus, serta kerajinannya mengikuti Perayaan Ekaristi Suci di Gereja St Lambertus, Coesfeld, mereka berdua menemukan seorang pembimbinng rohani yang menuntunnya untuk mewujudkan cita-citanya. Pastur Theodor Elthing, membawa mereka berdua, dan memperkenalkan mereka berdua dengan kongregasi SND Amerfoot yang berada di Belanda.( berdiri tahun 1822). Karena bagi Pastur Theodor Elthing, mereka berdua cocok untuk dididik pada kongregasi yang bergerak dalam bidang pendidikan. Kedua guru muda itu akhirnya dididik kehidupan religius dengan semangat & kharisma yang telah ditanamkan oleh Santa Yulia Billiart, pendiri kongrregasi SND Namur ( 1804 ).

Banyak pemudi yang mengikuti jejak Hilligonda Wolbring yang mengganti nama biaranya menjadi Sr Maria Aloysia SND dan Lisette Kuhling dengan nama biaranya Sr. Maria Ignatia. SND. Dalam perkembangan waktu, telah ada 11 suster yang berprasetia kekal dan 22 novis, yang pada tahun 1850. Setelah terjadi pembicaraan diantara Bapa Uskup Munster dan pimpinan biara SND Amersfoot, maka para suster yang dari Jerman itu memilih untuk kembali ke Jerman, untuk melanjutkan dan menghidupi kehidupan religius dan karya Tuhan yang telah mereka mulai.
Saat itulah 1 Oktober 1850, resmilah sebagai hari lahir kongregasi baru SND (Soure de Notre Dame ) di Coesfeld Jerman.

Perkembangan dan penderitaan seiring sejalan..

Sebagaimana yang dialami oleh Santa Yulia Billiart, bahwa kongregasinya ditandai oleh salib Tuhan, demikian juga yang dialami oleh kongregasi baru SND Coesfeld yang baru bertumbuh. Saat itu Jerman dikuasai oleh Pemerintahan Besmark. Para suster mendapat ancaman, tidak diperbolehkan memasang salib di kelas dan di biara mereka. Bila Para suster akan tetap tinggal di Jerman maka harus melepaskan jubah relegius dan kalau tidak taat maka ditindak bahkan diusir untuk meninggalkan Jerman. Penganiayaan dan pengejaran itu dijadikan Tuhan sebagai alat untuk memperluaskan karya-Nya dan sebagai perluasan kongregasi SND. Para Suster yang tua pindah ke Wessem (Belanda) sedangkan 200 suster muda, bersama Sr M Aloysia pada tahun 1872 pergi ke Amerika , kota Cleveland memenuhi udangan Bapa Uskup.

Dari situlah konggregasi berkembang, di Amerika sekarang telah ada 5 provinsi, di Cleveland (Chardon) , Covington, Kentucky, Toledo dan California. Dari Amerika kongreasi berkembang ke Brasil dan India. Setelah Jerman aman, sebagian para suster kembali ke Jerman, serta perluasan ke berbagai negarapun terjadi antara lain perluasan ke England, Italia, Belanda, dan Brusell ( Belgia )
.
Pada tahun 1945, Pusat kongregasi dari Coesfeld Jerman, pindah ke Roma, Italia tepatnya di Via della Camiluccia 687 Roma Italia. Pada tahun itu juga diadakan Suster Adorasi, yang mempersembahkan diri dalam karya kerasulan doa bagi karya kongregasi sedunia.Sebagaimana jantung yang berdenyut dalam nafas doa, demikianlah Para Suster adorasi bersujud melambungkan dupa syukur pujian dan permohonan yang memberi udara kehidupan nan segar bagi kongregasi.

Berkembang ke Indonesia
Pada tahun 1934, Mgr Scumaker MSC, meminta bantuan tenaga perawat dan guru kepada Sr Maria Garcia selaku pemimpin provinsi di Belanda. Maka diutuslah Suster yang diambil dari Provinsi Tegelen ( Belanda ) dan Munster ( Jerman ), untuk keuskupan Purwokerto. Saat itulah dikirim 5 Suster misionaris untuk pertama kalinya atas nama Provinsi Maria Regina Virginum Belanda untuk memulai karya baru di bumi Nusatara tepatnya di kota Batik Pekalongan dan Purbalingga. Ke lima suster misionaris itu adalah Sr. M. Alfonsina, Sr. M. Reginal, Sr. M. Irma, Sr. M. Godefrida, dan Sr Aldeberta. Laksana bunga SND hadir untuk memberi warna taman gereja Nusantara.

Provinsi lain di belahan dunia juga mulai melebarkan sayapnya, yaitu : Amerika mengirim susternya ke daerah misi India, dan Papua New Guinea. Jerman menggirim susternya ke Brasilia, England dan Korea. Kini Provinsi yang dulu merupakan Provinsi Misi, kini telah melebarkan sayapnya membuka misi baru. Misalnya Brasilia membuka di Mozambique, India membuka misi di Tanzania , Indonesia di Guimaras Philipina, Korea di China.

Provinsi Bunda Penasihat Baik yang berada di Pekalongan, tepatnya tanggal 26 April 2009, tepat merayakan Hari jadi ke 75 tahun. Usia yang matang bagi sebuah kongregasi maka dari tahun ke tahun Tuhan berkenan, melimpahkan berkatnya sehingga kerajaan Allah yang dimulai oleh Gereja dan diteruskan dalam konggregasi SND terus membuka komunitas baru untuk melayani kebutuhan karya kongregasi & gereja

Komunitas – komunitas SND di Indonesia :
1. Biara Santa Maria ( Rumah Provinsi Bunda Penasihat Yang Baik )
Jln Veteran 31 Pekalongan 51116.

2. Biara St Yosef : Jln P Diponegoro 13 Pekalongan 51116 ( Karya pendidikan, Kesehatan Rumah Sakit ) & Pastora ldan pendidikan.

3. Biara St Agustinus Purbalingga Jln S Parman No:
Karya Pedidikan ( TK s/d SMP) & Kesehatan ( Poliklinik ) , Pastoral Katekese.

4. Biara St Theresia Jln Dr Sutomo : Karya Kesehatan Poliklinik & Rumah Bersalin, pastoral & katekese.

5. Biara “ Wisma Cinta Sesama Marganingsih” karya :
Panti Asuhan Puteri Jln Raya Lasem 105.
Panti asuhan Putera Jln Raya Lasem No : 72.

6 Biara St Yulia Jln Raya Sapen Karya  Kesehatan ( Poliklinik), Sosial,
pastoral & katekese.

7. Biara St Aloysius Sendang Asih Sumberadi Sleman Yogyakarta .
Karya Pendidikan ( SMP ), Pastoral, Katekese.

8. Biara St Mikhael , Warak Sleman. Karya Pendidikan ( SMU), Pastoral, Katekese.

9. Biara Miryam Jln : Otto Iskandar Dinata 12 A : Rumah studi, karya pastoral, katekese.

10. Biara Notre Dame : “Komplek Sekolah Notre Dame” Jln Puri Kembang Barat Raya
Blok M, Puri Indah Jakarta Barat 11610. Karya  Pendidikan, TK s/d SMU, Pastoral, Katekese.

11 Biara St Rafael,Desa Ngunut, Tawangmangu . Karya Pelayanan Rumah Retret.

12 Biara St Rafael 2 Dukuh Bener, Tawangmangu. Karya Pendidikan TK,

13. Biara St Mikhael : d/a Seminari Tinggi St Mikhael Jln Thamprin Oepoi,
Kupang.Karya Pendidikan Seminari, Pastoral, Katekese.

14. Biara St Maria Visitasi Jln A Yani Kotak Pos 102 Ruteng Karya  Sosial
Pendidikan Non Formal Kursus memasak, menjahit, pastoral , Katekese.
15. Biara Elizabeth di landasan Ulin, Banjar Baru, Banjarmasin Kalimantan Selatan

16.Biara Oeleta Kupang  karya Pastoral.

17 Novisiat SND  Jln A Yani 92 Salatiga.

18.Biara St Elisabeth Ulin Banjarmasin . Karya  Pastoral, Katekese.

19.Biara St Anathal Palangkaraya, Asrama PUTRI STIPAS Jln Sahawung No: 1A.
Karya Pastoral, Katekese.
20.Biara Maria Matutina di Atambua  Pendidikan dan Pastoral
21.Biara Aldegonda ; Guimaras Ilo-ilo Philippina. Karya  Pendidikan TK, SD,
Pastoral, Katekese.

Bagi para pemudi yang ingin menggabungkan diri untuk mewartakan “ Betapa baiknya Tuhan yang Maha Baik” dan ingin mengubah “Batu menjadi Emas”, serta melayani sesama terutama yang miskin dan terlantar, dapat menghubunggi biara Pusat Jln: Veteran 31 Pekalongan No tilp ( 0285) 423196. atau biara – biara terdekat. Atau langsung menghubungi Sr. M. Monika SND via e-mail: monikaekowatisnd9@gmail.com
Para Suster SND, hadir bersama kongregasi lain, laksana bunga diladang gereja Indonesia dan dunia. Suster SND sebagai “ Wanita – wanita yang dikobarkan oleh Nyala Api cinta Kristus, untuk mewartakan kebaikan dan kasih Allah kepada dunia yang satu & sama , yang amat dicintai Bapa dan ditebus oleh darah tersuci Yesus Kristus” marilah kita melingkupi dunia dengan iman, harapan dan Kasih Tuhan .***

Oleh : Sr Maria Monika Puji Ekowati. SND

Tidak ada komentar:

Posting Komentar